Jejak Pikir
home | blog | rss | likes

Pesta Hijau Atau Revolusi Hijau?

Beberapa tahun lalu, saya sempat mendengar bahwa hutan seluas ratusan kali lapangan bola dibabat habis setiap jamnya di Kalimantan. Sedihnya, sampai sekarang pun belum ada perubahan yang signifikan dari gaya hidup masyarakat.

Friedman (2008) menyebutnya “pesta hijau”, yaitu langkah-langkah tidak signifikan (bisa dibilang hanya “hiburan”) yang dilakukan masyarakat untuk menutupi kewajiban yang lebih besar soal lingkungan. Saya setuju dengan Friedman. Banyak pihak yang sengaja mengaburkan arti sebenarnya dalam merubah gaya hidup menjadi lebih hijau dengan cara-cara yang kelihatan lebih menyenangkan. Pertanyaannya adalah “apakah cara tersebut akan bisa menggerakkan dunia ini ke arah yang lebih hijau?”, Belum tentu.

Seperti yang Friedman katakan, kita butuh revolusi hijau. Dalam sebuah revolusi, pasti ada sesuatu yang dikorbankan. Dalam kasus ini, hal yang harus dikorbankan adalah gaya hidup kita. Salah satu contohnya adalah dengan mencabut subsidi BBM. Indonesia, menurut saya, sudah terlalu banyak “menombok” untuk BBM rakyat. Kalau tidak percaya, coba bandingkan berapa proporsi subsidi BBM dibandingkan dengan anggaran untuk kesehatan dan pendidikan digabung. Memang sangat susah dan mahal, tapi inilah revolusi. 

Kembali ke contoh subsidi BBM, pencabutan subsidi BBM dapat merangsang inovasi dalam negeri untuk menciptakan bahan bakar lain yang lebih murah daripada BBM. Pemerintah juga dapat memberi insentif pajak untuk menambah rangsangan inovasi tersebut. Kalau tidak ada pressure (seperti pencabutan subsidi BBM), proses perubahan gaya hidup akan memakan waktu yang sangat lama. Mungkin pada saat kita sudah berganti gaya hidup, semuanya sudah terlambat.

Sebenarnya kita juga bisa melakukan hal-hal lainnya untuk lebih hijau sesuai dengan peran kita dalam masyarakat. Di Indonesia, khususnya di korporasi dan pemerintahan nampaknya gerakan go green belum mengakar. Padahal Indonesia, adalah bagian dari paru-paru dunia dan efek negatif dari pemanasan global pun besar dampaknya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang ada di daerah tropis. Ini adalah pekerjaan generasi anda dan saya untuk merubah hal tersebut. Sebagai calon pengambilkebijakan, kebijakan yang ramah lingkungan adalah suatu investasi yang akan dapat kita petik hasilnya dalam waktu yang tidak lama. Selalu sertakan pertimbangan lingkungan setiap anda akan mengambil sebuah keputusan strategis.

Nb: Tulisan ini terinspirasi dari buku “Hot, Flat and Crowded” yang ditulis oleh Milton A. Friedman (2008)