Soal Etika Komunikasi Digital
“Masa gua email panjang-panjang cuma dibales oke doang?”
“Kan gua SMS-nya pagi, masa baru dibales sorenya?”
Tak jarang saya mendengar orang mengeluh karena balasan pesan atau surat digital, yang mereka kirimkan, mengecewakan. Mengecewakan yang saya maksud adalah dalam cara membalas dan waktu yang diperlukan untuk membalas pesat atau surat tersebut. Setelah saya pikir-pikir, memang belum ada etika yang baku dalam hal waktu dan cara membalas pesan atau surat digital.
Jaman dulu waktu saya masih di sekolah dasar, saya diajarkan untuk membuat surat informal dengan format yang sudah ditentukan. Mulai dari nama lengkap, alamat, sampai kata sapaan pun ada aturan penempatannya. Meskipun surat informal bisa dibuat dengan berbagai cara, saya tahu benar kalau format tersebut benar-benar digunakan untuk surat-surat informal, contohnya surat untuk antar anggota keluarga. Ketentuan tersebut dinamakan etika surat menyurat. Keuntungan dari adanya etika ini adalah kedua belah pihak mempunyai standar pengharapan minimal atas balasan surat yang telah mereka kirimkan.
Seharusnya etika yang sama juga diajarkan untuk pesan atau surat digital. Saya tidak tahu tata cara yang benar-benar etis untuk membalas email, begitu juga untuk membalas SMS. Begitu juga dengan lama waktu untuk membalasnya. Kalaupun beberapa orang sekarang membalas dengan pakem tertentu (misalnya memakai bahasa baku), pelajaran etika ini tetap diperlukan sebab harus ada standar etika dalam berkomunikasi via digital. Saat semua orang mengetahui standar etika ini, tidak ada lagi yang salah paham atas cara membalas pesan atau surat digital seseorang.
