Jejak Pikir
home | blog | rss | likes

Hari Ini: 23/02/2012

Ah ya, kalo niat mah pasti bakal nyisihin waktu buat nulis. Kalo niat pasti ada waktu buat ngelakuin apa aja.

Iya sih.

Banyak kejadian yang saya lalui beberapa hari terakhir. Kejadian-kejadian tersebut adalah termasuk major changes. Long story short, saya dalam masa transisi dari satu fase hidup ke fase hidup lain. Dan saya masih belum bisa mengadaptasikan jadwal saya ke keadaan baru saya ini.

Karena kesibukan beradaptasi tersebut, blog ini sempat kosong beberapa hari. But, yeah, dont worry.. after i clean this mess up, i’ll be back to my regular writing habit as soon as possible :)  

aku pernah menjalani kurang lebih 90 hari tanpa nasi, alhasil…. berat badan berhasil turun (y)
Salut! saya juga sedang proses mengurangi nasi, tapi belum ada kesempatan (plus dana) agar tanpa nasi sama sekali.

My .02 : Hari Tanpa Nasi

Beberapa saat lalu pemkot kota Depok mengeluarkan program “One Day No Rice” yaitu larangan untuk mengkonsumsi nasi di hari Selasa setiap minggunya. Alasannya untuk mengurangi konsumsi nasi dan pemakaian energi dalam mengolah nasi tersebut. Dampaknya adalah restoran, warung dan tempat makan lainnya dilarang untuk menyediakan nasi pada menunya tiap hari Selasa.

Dalam pelaksanaannya, banyak yang pesimis dengan diberlakukannya peraturan ini. Mulai dari ibu-ibu rumah tangga, pemilik warung, sampai anggota DPRD kota Depok. Mereka (klise juga) beranggapan tidak bisa mengubah kebiasaan yang sudah mengakar, seperti mengganti makanan pokok dengan selain nasi. Saya juga pesimis dengan peraturan baru ini, sebab menurut saya, peraturan ini kurang kreatif dan kurang dipikirkan secara matang dalam pelaksanaannya.

Daripada melarang orang untuk mengkonsumsi nasi, lebih baik memberikan program alternatif makanan pokok lain untuk dikonsumsi. Dalam konteks pelaksanaannya, jangan jadikan hari Selasa sebagai “Hari Tanpa Nasi”, tapi lebih baik kalau, misalnya, menjadikan hari Selasa sebagai “Hari Makan Ketela” (atau bisa bahan makanan non-nasi lainnya). Dan di dalam pelaksanaanya, Pemkot harus menghimbau restoran, warung, atau tempat makan lainya untuk mengganti nasi dengan ketela. Mengkampanyekan makanan pokok lain saya rasa lebih efektif untuk merubah sebuah kebiasaan konsumsi daripada melarangnya.

Alasan Anak Daerah

Kembali ke daerah awalnya merupakan salah satu tujuan saya. Saya merasa memiliki tanggung jawab sosial untuk memajukan daerah asal. Saya pikir sebagian besar putra daerah pun berpikir demikian. Putra daerah yang belajar di daerah lain, akan memiliki pandangan tentang cara untuk memajukan daerah asal dengan belajar dari daerah lain yang ditinggalinya. Rasanya egois jika daerah asal tidak mendapatkan value added dari keberadaan saya disana.

Namun di lain sisi, kota besar menawarkan banyak kesempatan untuk mengembangkan diri. Untuk beberapa kasus, posisi strategis dalam sebuah institusi susah untuk digapai jika seseorang memulai karirnya dari daerah. Posisi strategis memberikan kekuasaan, dan kekuasaan sangat dibutuhkan untuk membuat sebuah perubahan yang besar dan signifikan.

Nilai-nilai yang melatarbelakangi seseorang untuk kembali ke daerah tetaplah relevan. Namun langkah yang ditempuh, menurut saya, bukan berarti seseorang tersebut harus berada atau kembali berdomisili di daerah.  Tak salah kalau seseorang memanfaatkan posisi strategisnya di kota besar untuk membantu daerah asalnya, asal value added yang diberikan lebih besar daripada saat orang tersebut tinggal di daerah. Saat kita bicara mengenai pekerjaan yang ada di departemen pemerintahan, pekerjaan yang ada di departemen pemerintahan pusat relatif lebih mempunyai kekuasaan untuk merubah suatu daerah, bahkan mungkin lebih dari departemen yang ada di daerah.

Beberapa orang mungkin melihat hal ini hanya sebagai alasan saya untuk tidak kembali berdomisili di daerah. Tapi percayalah kalau dalam usaha merubah suatu sistem, lebih baik kalau merubahnya langsung dari inti sistem tersebut. Unfortunately, inti dari sebagian sistem yang ada di Indonesia itu ada di kota besar.

Pesta Hijau Atau Revolusi Hijau?

Beberapa tahun lalu, saya sempat mendengar bahwa hutan seluas ratusan kali lapangan bola dibabat habis setiap jamnya di Kalimantan. Sedihnya, sampai sekarang pun belum ada perubahan yang signifikan dari gaya hidup masyarakat.

Friedman (2008) menyebutnya “pesta hijau”, yaitu langkah-langkah tidak signifikan (bisa dibilang hanya “hiburan”) yang dilakukan masyarakat untuk menutupi kewajiban yang lebih besar soal lingkungan. Saya setuju dengan Friedman. Banyak pihak yang sengaja mengaburkan arti sebenarnya dalam merubah gaya hidup menjadi lebih hijau dengan cara-cara yang kelihatan lebih menyenangkan. Pertanyaannya adalah “apakah cara tersebut akan bisa menggerakkan dunia ini ke arah yang lebih hijau?”, Belum tentu.

Seperti yang Friedman katakan, kita butuh revolusi hijau. Dalam sebuah revolusi, pasti ada sesuatu yang dikorbankan. Dalam kasus ini, hal yang harus dikorbankan adalah gaya hidup kita. Salah satu contohnya adalah dengan mencabut subsidi BBM. Indonesia, menurut saya, sudah terlalu banyak “menombok” untuk BBM rakyat. Kalau tidak percaya, coba bandingkan berapa proporsi subsidi BBM dibandingkan dengan anggaran untuk kesehatan dan pendidikan digabung. Memang sangat susah dan mahal, tapi inilah revolusi. 

Kembali ke contoh subsidi BBM, pencabutan subsidi BBM dapat merangsang inovasi dalam negeri untuk menciptakan bahan bakar lain yang lebih murah daripada BBM. Pemerintah juga dapat memberi insentif pajak untuk menambah rangsangan inovasi tersebut. Kalau tidak ada pressure (seperti pencabutan subsidi BBM), proses perubahan gaya hidup akan memakan waktu yang sangat lama. Mungkin pada saat kita sudah berganti gaya hidup, semuanya sudah terlambat.

Sebenarnya kita juga bisa melakukan hal-hal lainnya untuk lebih hijau sesuai dengan peran kita dalam masyarakat. Di Indonesia, khususnya di korporasi dan pemerintahan nampaknya gerakan go green belum mengakar. Padahal Indonesia, adalah bagian dari paru-paru dunia dan efek negatif dari pemanasan global pun besar dampaknya bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang ada di daerah tropis. Ini adalah pekerjaan generasi anda dan saya untuk merubah hal tersebut. Sebagai calon pengambilkebijakan, kebijakan yang ramah lingkungan adalah suatu investasi yang akan dapat kita petik hasilnya dalam waktu yang tidak lama. Selalu sertakan pertimbangan lingkungan setiap anda akan mengambil sebuah keputusan strategis.

Nb: Tulisan ini terinspirasi dari buku “Hot, Flat and Crowded” yang ditulis oleh Milton A. Friedman (2008)

Tips Merutinkan Olahraga

Kadang kala saat kita butuh berolahraga, rasa malas menahan diri kita. Padahal di dalam hati, kita sudah berniat untuk rutin berolahraga, namun apa daya rasa malas lebih kuat. Butuh satu jam saja untuk menjadikan olahraga sebagai rutinitas anda melalui langkah-langkah berikut ini.

1.       Masukkan olahraga dalam jadwal anda

Buatlah daftar beberapa kegiatan yang ingin anda lakukan dan masukan olahraga ke dalam daftar tersebut. Kalau memungkinkan, lakukan kegiatan-kegiatan ini segera setelah anda bangun pagi. Saya sarankan anda melakukan olahraga setelah subuh. Olahraga yang dilakukan pada pagi hari akan membuat otak mengeluarkan hormon endorfin yang akan membuat pagi anda menjadi terasa lebih bersemangat. Jangan lupa jadwalkan olahraga setiap hari, sebab jika anda tidak bisa olahraga untuk beberapa hari, rutinitas olahraga tiap hari akan lebih mudah dilakukan daripada rutinitas olahraga yang tiga atau empat hari sekali.

2.       Menetapkan target dalam berolahraga

Tetapkan target dalam berolahraga. Target tersebut bisa berupa menurunkan berat badan, atau bisa se-simple merutinkan olahraga. Saya sarankan untuk langkah awal, target anda adalah merutinkan olahraga. Setelah anda melakukan olahraga secara rutin, anda bisa mengembangkan target ini sesuai dengan keinginan anda.

3.       Memilih olahraga yang mudah dilakukan

Pada saat memulai untuk rutin berolahraga, lakukan olahraga yang mudah dan menyenangkan untuk dilakukan. Saya terbantu dengan adanya video olahraga di youtube. Saya menyarankan untuk mengunduh salah satu video home exercise atau kardio yang ada di youtube. Selain lebih menyenangkan, gerakan-gerakan yang ada di video tersebut sudah diramu sedemikian rupa sehingga dapat membakar lemak di tubuh secara lebih maksimal.

4.       Menjadikan olahraga sebagai personal achievement harian

Kadang kalau sudah lewat beberapa hari, niat untuk berolahraga akan menurun. Salah satu solusi untuk menaikkan kembali motivasi olahraga anda adalah dengan menjadikan olahraga sebagai personal achievement harian. Tingkatkan intensitas olahraga dalam interval waktu tertentu. Jadikan penambahan intensitas tersebut sebagai personal achievement anda.

5.       Melakukan olahraga sesegera mungkin

Melakukan olahraga sesegera mungkina adalah salah satu trik untuk menghadapi rasa malas di hari-hari awal. Jadikan olahraga sebagai aktivitas yang pertama anda lakukan setiap harinya. Melakukan olahraga sepulang kerja atau kuliah akan lebih berat untuk dilakukan secara berkelanjutan karena biasanya sepulang kerja/kuliah badan sudah tidak se-fit di pagi hari.

6.       Lakukan dua minggu berturut-turut

Kalau bisa lakukan dua minggu olahraga tiap pagi berturut-turut. Lakukan setiap hari. Kalau anda berhasil melakukannya, olahraga akan sudah menjadi aktivitas rutin anda dalam minggu-minggu berikutnya. Yang artinya adalah anda akan merasa ada yang kurang jika anda tidak melakukan rutinitas olahraga ini.

Sebenarnya rangkaian tips diatas dapat anda terapkan juga jika anda ingin merutinkan kegiatan-kegiatan lainnya. Ayo, segera dimulai olahraganya!

Ngoceh Soal Handphone

Berapa umur handphone anda sekarang? Kapan terakhir kali anda ganti handphone? Untuk saat ini saya rasa pertimbangan jauh ke depan untuk membeli handphone dapat kita kesampingkan. Jangan berpikir soal after sale service yang yahud, toh belum tentu anda “niat” untuk memperbaiki handphone anda di service center. Jangan terburu berpikir pula soal garansi, kadang masa garansi belum habis tapi masa trendy handphone anda sudah terburu kadaluarsa. Handphone itu lebih berguna sebagai atribut status daripada sebagai alat komunikasi.

Tipikal remaja, anak kuliah sampai orang kantoran memakai Blackberry. Soal seri yang mana, itu tergantung lagi kepada status sosial. Enggan Blackberry karena sudah terlalu pasaran? Alternatif lain adalah Iphone. Harga Iphone boleh sedikit lebih mahal tapi terbayar karena efeknya yang membuat anda stand out from the crowd. Ingin terlihat sebagai whiz-kid? Pakai apa saja yang bersistem operasi Android. Jangan lupa bantu teman anda yang kesusahan pakai Android, agar image whiz-kid semakin kencang. Asal jangan sampai pakai Blackberry abal-abal buatan Cina. Serius. Orang lain bisa sia-sia merampok anda karena Blackberry made in China tersebut.

Apakah tren ini akan berhenti? Saya pikir tidak. Dari video Microsoft soal teknologi masa depan (sempat saya share beberapa waktu lalu), masih banyak kemungkinan pengembangan handphone beserta aplikasi pendukungnya. Tren ekonomi juga mendukung hal ini. Pada tahun-tahun ke depan bersiap-siaplah akan banyaknya perpindahan manusia dari strata ekonomi bawah ke strata ekonomi menengah akibat dari globalisasi. Apalagi ditambah dengan perekonomian Indonesia yang sangat bergantung pada konsumsi. Handphone tak akan pernah lagi hanya menjadi alat komunikasi.

Belilah apa saja yang anda perlukan, bukan apa saja yang mereka tawarkan. Inovasi teknologi tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Produsen meramu inovasi teknologi ini agar korporasi mendapatkan keuntungan paling maksimal. Konsumen seperti dipermainkan produsen sebab produk handphone yang baru dipasarkan tidak terlalu berbeda signifikan dengan pendahulunya demi keuntungan finansial. Lama-kelamaan kualitas dan after sales service dari handphone juga akan akan semakin diturunkan produsen, sebab fakta di lapangan mengatakan bahwa handphone hanya dipakai secara temporer (mengikuti tren) dan masa pakainya tak lebih dari 2 tahun.

Keputusan untuk membeli barang konsumsi yang benar, dimulai dengan mengidentifikasi keperluan sendiri. Konsumtifitas kita yang membuat kita dibuat mainan oleh produsen. Konsumtifitas kita pula yang dapat menurunkan kualitas barang namun memahalkan harganya.

Soal Etika Komunikasi Digital

“Masa gua email panjang-panjang cuma dibales oke doang?”

“Kan gua SMS-nya pagi, masa baru dibales sorenya?”

Tak jarang saya mendengar orang mengeluh karena balasan pesan atau surat digital, yang mereka kirimkan, mengecewakan. Mengecewakan yang saya maksud adalah dalam cara membalas dan waktu yang diperlukan untuk membalas pesat atau surat tersebut. Setelah saya pikir-pikir, memang belum ada etika yang baku dalam hal waktu dan cara membalas pesan atau surat digital.

Jaman dulu waktu saya masih di sekolah dasar, saya diajarkan untuk membuat surat informal dengan format yang sudah ditentukan. Mulai dari nama lengkap, alamat, sampai kata sapaan pun ada aturan penempatannya. Meskipun surat informal bisa dibuat dengan berbagai cara, saya tahu benar kalau format tersebut benar-benar digunakan untuk surat-surat informal, contohnya surat untuk antar anggota keluarga. Ketentuan tersebut dinamakan etika surat menyurat. Keuntungan dari adanya etika ini adalah kedua belah pihak mempunyai standar pengharapan minimal atas balasan surat yang telah mereka kirimkan.

Seharusnya etika yang sama juga diajarkan untuk pesan atau surat digital. Saya tidak tahu tata cara yang benar-benar etis untuk membalas email, begitu juga untuk membalas SMS. Begitu juga dengan lama waktu untuk membalasnya. Kalaupun beberapa orang sekarang membalas dengan pakem tertentu (misalnya memakai bahasa baku), pelajaran etika ini tetap diperlukan sebab harus ada standar etika dalam berkomunikasi via digital. Saat semua orang mengetahui standar etika ini, tidak ada lagi yang salah paham atas cara membalas pesan atau surat digital seseorang.

Hari ini 12/02/2012

Pada saat memilih pekerjaan pertama saya, satu hal yang selalu saya tekankan adalah adanya work life balance. Bukannya manja, tapi menurut saya poin yang satu ini penting sebab saya masih ingin “menjadi manusia” saat saya bekerja. Setelah saya pikir-pikir, meskipun saya sekarang punya pekerjaan yang lumayan seimbang antara pekerjaan-kehidupan pribadi, namun hal tersebut masih belum cukup untuk menjadikan saya sebagai “manusia”. Untuk itu, berikut beberapa hal yang saya lakukan akhir-akhir ini untuk memperbaiki kualitas hidup saya:

  • Berhenti berlangganan layanan internet. Selama sebulan kebelakang, saya dengan sengaja mengurangi akses internet. Selama sebulan kebelakang pula, saya tidak merasakan kesulitan yang mengganggu hidup saya. Untuk tetap update tentang isu-isu terkini, saya membaca majalah. Keuntungan yang saya rasakan adalah informasi yang sampai di kepala saya lebih fokus kepada informasi dengan tema-tema yang menarik bagi saya (sesuai tema majalah tersebut, tanpa ada distraksi tema-tema lain). Untuk pengganti sarana komunikasi dengan kawan, saya kembali menggunakan cara “tradisional” yaitu telepon dan sms.
  • Saya memulai hari saya dengan terjadwal. Saya mempunyai beberapa target keberhasilan tiap harinya. Target keberhasilan ini saya derivasikan dari resolusi tahun baru lalu. Beberapa diantaranya adalah saya belajar bahasa baru dan olahraga. Untuk yang terakhir saya sebut, saya sudah bisa merasakan manfaatnya. Olahraga di pagi hari membuat saya bersemangat dan tidak gampang capek (Klise? Tapi memang rasanya seperti itu).
  • Saya merubah pola hidup saya. Saya mulai memperhatikan apa yang saya makan. Saya mengurangi nasi dan bahan makanan yang mengandung karbohidrat lain. Di sisi lain, saya menambah buah, sayur,ikan dan daging. Sebelumnya, saya suka tidur larut malam. Namun, kebiasaan itu saya rubah dengan tidak tidur malam dan bangun pagi buta.

Meskipun kalau ditulis jadi cuma tiga poin, efek poin-poin di atas masif terhadap hidup saya. Saya merasa hidup saya lebih mudah, tenang dan fokus. Konsentrasi saya bertambah atas semua informasi yang masuk ke dalam kepala, sehingga saya bisa memberikan feedback yang bagus. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Nb: Setelah sebulan lebih vakum, saya berencana mengecek/update blog ini 2-3 hari sekali. Tetap saya usahakan ada tulisan yang saya queue post tiap harinya.

Ah ya, beberapa hal memang harus diputuskan tanpa perlu pikir-pikir panjang. Just do it!, kalau kata Nike. Plus, berpikir terlalu panjang kadang malah tidak akan membawa anda kemana-mana. Beberapa waktu lalu, saat saya mau mencari video untuk mengimprove latihan cardio saya, saya menemukan ini. Tanpa pikir panjang, saya lalu melakukan satu set penuh latihan yang ada di video ini. Pandangan saya langsung gelap dan mau muntah. LOL. But it was worth it, it was so much fun. I dare you to do it!